Senin, 20 November 2017

Corat-Coret di Toilet

Secara umum, saya menyenangi tulisan Eka Kurniawan karena biasanya mengangkat isu-isu yang saya memang peduli. Secara lebih khusus -- personally, saya lebih menyukai tulisan Eka yang berbentuk novel karena saya suka sekali dengan cara Eka dalam mengeksplorasi kedalaman cerita. Saya senang membaca sekaligus merasakan kedalaman tulisan Eka melalui eksplorasi yang dibuatnya, terutama di dalam novel Cantik Itu Luka. Sementara itu, saya merasa bahwa cerita pendek yang ia buat terkadang hit, terkadang miss bagi saya. Masalah preferensi personal saya, sih. Ini bukan soal saya tidak menyukai cerita pendek buatan Eka, melainkan saya yang lebih menyukai tulisan Eka yang berbentuk novel dibandingkan cerita pendek.

Meskipun demikian, saya tetap bisa merasakan upaya Eka dalam mengajak kita untuk peka dan peduli terhadap kejadian atau isu-isu yang terjadi di sekitar kita melalui cerita-cerita pendeknya -- begitu pula dalam kumpulan cerita pendek Corat-coret di Toilet ini -- seperti yang saya rasakan ketika saya membaca novel-novel buatannya.

Setiap cerita di Corat-coret di Toilet mewakili beberapa fragmen dari kehidupan kampus dan mahasiswanya, kehidupan rumah tangga, hubungan orangtua dan anak, kejadian politik, kejadian sosial, sejarah masa lalu yang terjadi di Indonesia, bahkan kejadian yang sifatnya lebih personal lagi. Kita mungkin seperti diajak untuk mengingat catatan ketika belajar sejarah (di manapun itu), rumor yang menimpa orang di sekitar kita, gosip-gosip yang kita temui saat di kampus, berita-berita di media massa, bahkan bisa jadi teringat dengan kisah personal kita sendiri, dan lainnya. Atau mungkin kita justru jadi belajar hal baru melalui buku ini -- yang kesemuanya dikemas layaknya sebuah dongeng sarat makna. Ada juga catatan-catatan mengenai tahun pembuatan atau tahun ketika tulisan-tulisan tersebut dipublikasikan pertama kali.

Sumber: http://www.niafajriyani.com/
***

Tidak ada komentar: